Dinar dan Dirham Tolok Ukur Stabilitas Ekonomi, Mungkinkah?

Print

Akhir-akhir ini kita sering mendengar banyak sekali perdebatan, diskusi, seminar yang pokok bahasannya adalah apakah perlu dan mungkin untuk kembali pada penerapan dinar dan dirham sebagai alat tukar perdagangan ?

Karena berbagai factor yang telah lama membelenggu, sehingga menjadikan ekonomi dunia global pada umumnya, menjadi kian suram dan carut-marut. Menjadi hal yang sah dan wajar saja, diskursus yang terjadi kini kian menarik dan memerlukan suatu proses lebih lanjut.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar banyak sekali perdebatan, diskusi, seminar yang pokok bahasannya adalah apakah perlu dan mungkin untuk kembali pada penerapan dinar dan dirham sebagai alat tukar perdagangan ? Karena berbagai factor yang telah lama membelenggu, sehingga menjadikan ekonomi dunia global pada umumnya, menjadi kian suram dan carut-marut. Menjadi hal yang sah dan wajar saja, diskursus yang terjadi kini kian menarik dan memerlukan suatu proses lebih lanjut.

Hegemoni yang telah dilakukan oleh Negara Adidaya terhadap negara-negara lemah dan berkembang kian kuat cengkramannya. Sehingga dalam perdagangan-pun hegemoni ini terus berlanjut. Tidaklah dapat kita sangsikan bahwa krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia adalah merupakan buah dari hegemoni Negara Adidaya, di mana krisis yang terjadi diawali oleh krisis mata uang berupa hilangnya kepercayaan terhadap rupiah yang melanda Indonesia dan sejumlah Negara Asia. Hegemoni dolar Amerika terhadap mata uang lainnya, menjadikan lemahnya sirkulasi perdagangan dan aspek-aspek lainnya sehingga inflasi kian terus meningkat. Hampir semua negara masih menggunakan dolar Amerika sebagai transaksi investasi, ekspor-impor, utang negara, bahkan cadangan devisa.

Pemikiran untuk kembali kepada dinar dan dirham adalah merupakan sesuatu yang tidak mustahil, mengingat saat ini-pun posisi dolar terhadap euro kian memperlihatkan betapa hegemoni yang selama ini kokoh mulai kehilangan mahkotanya. Sehingga apa yang dulu dikatakan, bahwa dolar Amerika sebagai mata uang paling sakral di dunia – in God we trust- kini kian mulai kian lenyap nilai kesakralannya.

Hal ini didasari bahwa uang yang sekarang berlaku adalah tidak sesuai dengan nilai intrinsiknya lagi. Ibnu Taimiyyah mempunyai pengalaman beberapa kali turunnya nilai mata uang koin yang terjadi di Mesir, di bawah pemerintahan sejumlah Sultan dari Dinasti Mamluk. Ia meminta sultan untuk memeriksa penyebab menurunnya nilai uang tersebut, yang menyebabkan terjadinya kekacauan ekonomi. Ia sangat menentang penurunan nilai mata uang, juga pencetakan mata uang yang terlalu banyak. Dia mengatakan : “otoritas pemerintah harus mencetak mata uang koin (emas atau perak) sesuai dengan nilai transaksi yang adil dari penduduk, tanpa keterlibatan kezaliman di dalamnya.”

Sejumlah pertanyaan yang dikutip di atas menunjukkan, bahwa ia sangat mempertimbangkan pentingnya nilai intrinsik dari mata uang koin, sesuai dengan nilai logamnya, sehingga sesuai dengan kekuatan jual-beli di pasar, di mana tak seorang-pun (termasuk penguasa) mencari keuntungan dengan melebur koin itu, menjualnya dalam bentuk logam atau mengubah metal itu menjadi koin dan memasukkannya dalam peredaran mata uang.

Ibnu Taimiyyah juga menyebutkan suatu pikiran, bahwa di Barat seperti dianut oleh Thomas Gresham di tahun 1857 dan kemudian lazim disebut sebagai Hukum Gresham, hukum itu secara sederhana menyebutkan bahwa jika dua buah mata uang koin memiliki nilai nominal yang sama, tetapi dibuat dari logam yang tak sama nilai (intrinsiknya), maka uang koin yang berasal dari bahan yang lebih murah akan menyingkirkan yang lain dalam peredaran. Mata uang koin yang berasal dari logam yang yang lebih baik akan ditimbun, dilebur atau diekspor, karena dianggap lebih menguntungkan, khususnya mata uang yang terdiri dari logam campuran, ketika rasio nilai mata uang yang dicetak berbeda dengan rasio pasar.

Berawal dari fatwa penting akan sejarah mengenai pelarangan pemakaian uang kertas yang ditulis Umar Ibrahim Vadillo pada tahun 1991, yang kemudian beliau memulai pencetakan mata uang dinar dan dirham pada tahun 1992 dan mendirikan world Islamic Mint (WIM).

Sehingga kini timbul pemikiran bagaimana dalam perdagangan antar dunia Islam diberlakukan standar mata uang dinar dan dirham sebagai nilai tukar, guna mengimbangi kekuatan mata uang dolar, euro, serta untuk menghindari terjadinya transaksi-transaksi maya di pasar uang yang mengakibatkan terjadinya krisis.

sumber: zonaekis.com

Friday the 15th. 888Poker. Memasyarakatkan Ekonomi Syariah, Mensyariahkan Ekonomi Masyarakat
Copyright 2012

©